Apa yang harus dilakukan ketika rasa malas muncul dan sangat ragu akan berhasil? #Dreamlife7

Kurasa, pertanyaan ini memang banyak terjadi. Bahkan dihidup orang-orang sukses sekalipun. Aku pun sering mengalaminya dan sering memikirkan solusinya.

Pertama-tama, mari membicarakan pengertian malas terlebih dahulu. Salah satu pengertian malas menurut wikipedia adalah “ketidakpedulian”, dan bisa berarti “kelambanan” juga bisa “kejemuan”. Bahkan, rasa malas juga dianggap sebagai salah satu dosa pokok. Hal ini terjadi karena malas itu adalah suatu hal yang buruk dan memang tak boleh dibiarkan lama-lama. Namun, melawan malas tidak semudah makan kue, sangat sulit. Sehingga, banyak orang yang butuh waktu lama untuk menghilangkannya.

Baca juga : Surviving the failure!

Apa yang harus dilakukan ketika rasa malas muncul?

According to me,

1. Paksa diri untuk bergerak.
Kadang, memang memaksa dibutuhkan untuk dilakukan. Apalagi kalau hal itu akan berakibat positif. Jika tidak memaksa diri untuk bergerak, misalnya berolahraga sebentar, atau melakukan suatu jalan-jalan agar rasa “mager” itu tertepis.
Kalau rasa malas muncul untuk melaksanakan to do list, maka terus paksa diri untuk melakukan sesuatu. Kalau memang berat, bisa buat perjanjian dengan diri sendiri, atau bisa juga dengan teman agar nanti kalau gagal dalam memaksa diri akan mendapat hukuman. Rasa malas akan mengakar jika terus dibiarkan menjalar.

Baca juga : Let’s create your own opportunity!

2. Tonton video atau film yang bisa membangkitkan moodboster.

Kadang, memang video youtube atau film bisa menjadi pilihan yang baik untuk menghilangkan rasa malas. Tak perlu harus menonton video tentang cara menghilangkan rasa malas ( atau kalau mau terserah, sih) tapi tontonlah video kesuksesan orang lain. Atau video youtube content creator yang sudah memilik banyak views atau juga tonton video tentang bagaimana orang-orang menjadi sukses karena selalu tidak pernah membuang waktu. Hal ini sangat penting, untuk memberi kesadaran baru dalam diri yang sudah lelah dan jenuh. Atau bahkan bisa tonton video religius atau hal-hal lain.
Kalau anda suka membaca, maka bacalah profil-profil orang yang sudah sukes. Tak mesti enterprenuer, selebgram juga bisa.

3. Cari teman yang bisa mendorong anda melakukan suatu pekerjaan.

Teman memang lumayan berpengaruh dalam kehidupan orang-orang. Karena kadang teman adalah salah satu penyemangat dalam pertumbuhan orang-orang. Baik pertumbuhan fisik atau mental. Lingkungan yang lebih aktif dan banyak orang positif, juga orang yang terus mencari tahu segala sesuatu juga bisa menghilangkan rasa malas.

Ragu adalah cacat. Sebab, ragu akan menggiring orang pada ketidakjelasan. Ragu juga akan membuat orang linglung dan tidak ada pegangan. Karena itu ragu sangat tidak dibutuhkan. Sebaiknya anda tidak pernah merasa ragu dengan impian anda, dan to do list yang sudah anda persiapkan ketika ragu muncul, lakukan hal-hal itu dan teruslah berusaha.

“Menjadi sukses memang berat.”

Melawan rasa malas memang sangat sulit dan berat. Bahkan diri sendiri pun seperti itu. Seperti malas mengupload post di blog. 😆 Namun, tetap saja harus dilawan. Tak bisa dibiarkan dan jadi sebuah alasan. Harus keras pada diri sendiri, harus maju dan tak boleh mudah malas. Maka, biasanya setelah melakukan step-step seperti diatas, rasa malas itu terkikis sedikit demi sedikit. Semoga, menjadi bukit kikisannya.

Love, Naf.

Apakah Diam Memang Emas? #2

“Kenapa mereka bisa sampe begitu banget, ya?”

“Ih, ngapain kamu peduli tentang mereka. Jangan sibuk urus urusan orang, urus aja punya sendiri!”

Kata-kata di atas lumayan membuatku bingung dan heran. Bagimana tidak? Sebab, katanya tak usah peduli dengan urusan orang. Ya, aku juga percaya begitu kalau itu memang tak ada sangkut pautnya dengan kita.

Tapi, ini masalahnya, menyangkut paut dengan kepentingan seluruh umat muslim atau sesama saudara. Contohnya, seperti melihat banyak audara-saudara yang tidak shalat, suka bermaksiat. Maka, apakah mereka memang harus dibiarkan begitu tanpa diperingatkan?

Pertanyaannya sekarang, apakah diam dan terus mengurusi hidup sendiri memang adalah jawaban? Atau kalaupun bicara pada mereka dan cukup hanya satu kali teriakan?

Tak pantaskah sekedar membuat mereka sadar bahwa itu adalah sebuah keruntuhan bagi agama?
Bukankah mukmin adalah satu bangunan? Lalu, bagaimana menjadi bangunan jika tidak saling menguatkan?

Mohon jawabannya teman-teman. Semoga ada pencerahan.

Lanjutkan membaca “Apakah Diam Memang Emas? #2”

A Talk.

Pertama-tama, rasanya ini melelahkan untuk terus membicarakannya. Tapi karena tanpa dibicarakan juga terus menggumpal di hati. Daripada lama-lama jadi penyakit, kurasa lebih baik menumpahkannya di sini. Oh, tentu saja tempat ini bukan tong sampah sehingga harus ditumpahkan, tapi hanya karena ingin berbagi agar bisa dilihat oleh orang yang memang sengaja berkunjung atau oleh orang yang datang karena salah klik.

Asumsi pertanyaan yang akan muncul seperti ini, kenapa harus membicarakannya, apakah itu akan berpengaruh? Atau itu akan mengubah sesuatu?
Jawaban untuk asumsi itu adalah : mungkin tidak dalam jumlah besar atau tidak dalam waktu yang cepat atau bahkan tidak oleh aku. Tapi, begini saja, kalau pertanyaan itu muncul, pertanyaanku apakah harus diam ketika aku merasa ada sesuatu yang salah di masyarakat atau dimanapun dan hal tersebut sudah dinormalisasi oleh masyarakatnya? Hal tersebut total salah, mungkin melenceng dari budaya, atau agama, atau bahkan nilai-nilai moral, tapi dikarenakan perubahan zaman yang begitu signifikan, hal itu malah jadi normal-normal saja. Jadi, apakah masih harus terus diam jika menghadapi hal seperti itu?

Mungkin bagi yang betah dan menjadi salah satu yang menormalisasinya, ya diam-diam saja. Tapi bagiku tidak. Aku tidak betah dan menyesalkannya.

Namun, dikarenakan aku bukan aktivis besar, atau anak presiden, maka aku memilih hanya bicara di tempat-tempat seperti ini, di facebook, twitter, atau curhatan di instagram. Setidaknya, akan ada yang lihat, walau salah klik.

Sebab, aku percaya, walau tidak punya kekuatan besar untuk mengubah sesuatu, setidaknya hal itu tersebar pada orang lain daripada diam-diam saja, lebih baik jika satu orang bicara dan orang tersebut mungkin akan bicara pada orang lain lagi, orang lain itu akan buat status di fb, dan teman-teman facebooknya akan membicarakannya di youtube dan seterusnya.

Intinya adalah, aku memang belum membicarakan hal tersebut di postingan kali ini. ini hanya, ya, pembuka mungkin. Macam introduction yang sudah tak pantas disebut introduction. Aku hanya ingin bilang, ketika ada sesuatu yang mengganjal dan seharusnya hal itu tidak terjadi, baik secara moral, nilai-nilai dan kepercayaan. Kenapa tidak membicarakannya di suatu tempat yang semua orang bisa melihat dan bisa berdiskusi? Yah, aku tidak menyuruh untuk membuat sesuatu yang memancing kebencian antara banyak pihak, artinya sesuatu yang menyinggung etnis lain, atau kepercayaan orang lain, ini hanya tentang sesuatu yang diterima secara umum, tapi berubah karena teknologi atau globalisasi. Yah, macam-macam aktivis itulah.

Sebab, banyak orang di luar di sana, yang punya kemampuan untuk bicara, punya kekuatan, punya relasi atau bahkan punya bakat, tidak mau bicara. Karena ingin melindungi prestasi, harga diri, image, dan kenyamanan hidup yang terlanjur ada. sebab katanya lagi, ikut campur itu menyebalkan, makanya lebih baik diam, walau masyarakat, lingkungan, teman-teman sesama anak muda semakin aneh-aneh saja tingkahnya. Buat mereka lebih baik menjaga diri, daripada membantu mengurusi orang lain agar hidup nyaman milik bersama.

Karena itu, bicaralah jika perlu diamlah jika harus.

Yah, itu saja. Semoga tidak membuat anda sakit mata membacanya. Jikalau penasaran tentang postingan kelanjutan ini.

Tunggu ya~

Love, Naf.

Dua Akibat Ekstrem Jika Sering Dipuji.

Mereka cantik, diinginkan, dihargai dan dielu-elukan dari setiap sudut keadaan. Semua orang ingin bicara dengan mereka, ingin dekat, intim, dan bersahabat. Tak ada yang lebih menyenangkan bagi orang lain selain dapat menjadi teman mereka di Watsapp atau selalu berbalasan direct message di instagram.

Namun, diinginkan, penghargaan, dan elu-elu itu ternyata membuahkan hasil yang lumayan tidak berakibat baik bagi wanita itu. Ada dua hal besar yang sering terjadi akibat semua itu.

1. Mereka akan sombong.
Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat banyak orang yang membanggakan mereka, meminta folback akun instagram atau meminta nomor WA.

Pikiran yang hadir dalam benak si wanita adalah, tak apa ia sombong, sebab orang-orang tetap mengaguminya. Satu yang harus dicatat, biasanya ia akan sombong pada manusia tak berpangkat yang tak punya muka dan tak punya harta. Tapi, wajahnya akan berseri-seri bagai bulan purnama pada manusia yang wajah mereka sering digadang-gadang atau uang dalam dompet mereka seperti hamburan kertas di ruang fotokopi.

Jangan Terlalu Sensitif!

Wanita yang sering dipuji ini, baik karena kecantikan atau karena kecerdasan sering merasa tidak perlu pada manusia-manusia tak berguna. Sering tak peduli dan merasa ogah.

Lucu memang, tapi fakta yang memberitahu.

Jika mereka tidak sombong, maka biasanya mereka akan…

2. Mereka akan lepas kendali
Kenapa lepas kendali? Iya. Ketika mereka dibangga-banggakan, dicuit-cuitkan, dan disenyumi siapapun. Terutama oleh kaum lelaki. Mereka akan langsung merasa bangga karena didekati oleh banyak kaum lelaki, ketika lelaki itu terus mendekati mereka, disaat itulah mereka sering lepas kendali untuk bersikap di depan lelaki itu. Baik lupa pada batasan-batasan yang wanita tidak boleh lakukan, atau bersikap semaunya seperti : pegang tangan, duduk sambil pukul-pukulan dianggap biasa, atau terbahak-bahak bersama, bahkan jalan bersama hingga malam hari. Rasa bangga itu yang sering membuat wanita lupa dan gelap mata.

Rasa bangga akibat diinginkan…
Orang yang diinginkan memang sering merasa bangga dan bahagia. Itulah kenapa orang jomblo sering merasa galau dan merana, karena tak ada yang menginginkan mereka. Sebab, hanya sebagian saja jomblo yang tak galau, kalapun sudah menjomblo sejak dilahirkan ke dunia.

Lalu, apakah rasa diinginkan itu tidak boleh ada? toh, dia memang cantik. Mau bagaimana lagi kalau tidak diinginkan orang?

Jawabannya sederhana, sangat jarang seseorang yang memang cantik, apalagi cerdas, tersepak-sepak tanpa ada tempat. Biasanya tempat mereka memang istimewa. Maka, diinginkan tentu saja boleh. Tapi jangan terlalu bangga dulu.

Barangkali, ketika hati terlalu bangga, disaat itu anda kena tipu :))

Love, Naf~

Jangan Terlalu Sensitif!

Katanya humor dibutuhkan. Untuk mencairkan suasana. Tapi bercanda sedikit akan langsung mendapat balasan mata berkaca-kaca. Dia sedih. Marah. Kecewa. Hanya karena pembicaraan yang sederhana bersama teman.

Begitulah orang sensitif bekerja.Hati mereka rapuh oleh keadaan dan suasana, yang jelas-jelas memang kadang penuh tantangan. Ketika itu terjadi, mereka akan mengasingkan diri. Menyesali hidup. Memarahi takdir. Mengatakan kalau tak ada yang bersedia mengerti, tak ada yang peduli, tak ada teman.
Bukankah hidup memang berat? Sehingga dibutuhkan hati yang kuat dan pendirian yang tangguh? Agar tak mudah peduli pada pembicaraan tidak penting yang dilontarkan orang lain?
Memang itu adalah kepribadian.

Tapi setiap orang bisa mengubahnya atau mengurangi tingkat sensitif perasaan mereka agar kedepannya mereka akan menjadi pribadi yang lebih kuat. Hidup tak ‘kan pernah sama. Selalu berputar. Seiring waktu, hidup akan semakin menyedihkan dan pahit.

Baca juga : Let’s plan your goals!

Maka, jika ada yang mengatakan sesuatu. Pahamilah kata-kata itu. Pantas untuk dijadikan bahan rasa marah atau tidak. Jika memang hanya bercandaan, cobalah mengerti. Tapi jika memang becandanya kelewatan maka marahlah.

Pertanyaannya, bagaimana untuk tahu bahwa bercanda itu kelewatan atau tidak? Gampang saja. Lihat siapa yang mengatakannya. Orang-orang terdekat. Sahabat. Pacar. Keluarga. Tidak akan mengeluarkan bercandaan yang menghina dan merendahkan. Jika bercandaan itu berasal dari orang lain. Teman jauh. Teman basa-basi, maka pertimbangkan.

Marah jika perlu. Senyumkan saja jika tidak. Keep strong!

Love, Naf~

“Don’t judge people just because you’re better.”

Kemarin aku pergi ke suatu acara yang diadakan temanku. Aku yang memang bukan orang kaya dan hanya berasal dari keluarga biasa-biasa saja, memakai pakaian seadanya. Awalnya, aku agak malas menghadiri acara itu, karena kuketahui bahwa temanku adalah orang berada dan pasti tamunya banyak berasal dari orang-orang berada juga. Namun, kukuatkan hati dan kupaksakan langkahku karena aku ingin menghargai undangan temanku.

Aku datang dan tentu saja dengan wajah penuh kagum pada acara yang meriah itu.
Aku mencoba berbaur dengan tamu undangan yang hadir, dengan baju sederhana itu aku berusaha membangun percakapan dengan mereka agar aku tak menjadi makhluk asing di acara itu. Semuanya berjalan baik-baik saja hingga ketika seorang wanita dengan pakaian mewah dan perhiasan yang serba ‘wah’ datang menghampiri kami. Dia cantik dan elegan. Gaya berjalannya menawan dan dia memang menarik perhatian, baik karena wajahnya dan juga karena bajunya.

Aku tersenyum ke arahnya untuk membuat suasana lebih cair saja, namun wanita itu diam saja tak membalas senyumku. Wajahnya datar dan tatapan matanya meneliti ke arahku. Dia melihatku dari ujung kaki hingga ujung rambut, dapat kulihat dahinya mengerut entah karena apa.

Surviving the failure

Aku sedikit merasa kesal melihat gayanya. Ingin ku tegur dan bertanya apa yang dia lihat, tapi kutahan diriku karena aku tak ingin menciptakan kebencian di sana. Aku diam saja dan menerima pandangannya dengan sedikit paksaan agar lapang dada.

Walau orang-orang cantik dan kaya yang baik itu ada. Tapi orang-orang seperti wanita itu pun berjamur. Maka, aku tak ingin memikirkan lebih banyak tentang mereka. Memang sudah begitu adanya. Hanya saja, aku heran dengan pandangan mereka pada orang lain. Mereka memang kaya, cantik dan menawan, namun pantaskah mereka menilai orang dengan pandangan seperti itu hanya karena mereka lebih dalam segi apapun?

Mereka hanyalah sekumpulan orang yang merendahkan orang lain hanya karena mereka lebih baik. Padahal semua orang sama saja. Yang membuat seseorang terlihat luar biasa dan mulia adalah karena sikapnya yang menghargai dan selalu tak membedakan-bedakan orang lain hanya karena harta, wajah dan pintar saja.

Orang-orang mulia itu adalah orang yang menghargai setiap manusia tanpa peduli latar belakangnya. Selama bisa membuat orang lain bahagia meski hanya karena sebuah rasa penghargaan, kenapa harus membuat orang lain bersedih hanya karena rasa merendahkan?

Kuharap, orang-orang yang merendahkan itu cepat sadar diri. Dan semoga populasi mereka agak berkurang pada waktu-waktu ke depan. Karena meski mereka bukan bagian yang patut dirisaukan, kadang-kadang mereka agak menyebalkan.

Tapi, ya sudah. Abaikan saja.

Love, Naf~

Surviving the Failure #dreamlife6

Hi guys, ini Naf. 😎

Dalam setiap hal yang aku lakukan, 8 diantara 10 adalah kegagalan. Artinya, memang banyak kegagalan yang kutemui dalam setiap to-do list, mimpi-mimpi dan pekerjaan yang kulalui.

Seperti, aku gagal untuk menang ketika kesempatan mengikuti perlombaan hanya sekali.

Aku gagal untuk berhasil ketika semua orang sudah mendahuluiku dalam hal itu.

Aku gagal dalam ujian, ketika teman-temanku mendapat banyak kesempatan besar.

Hanya aku yang gagal untuk tidak mendapat beasiswa, ketika banyak dari teman-temanku sukses melangkah ke tempat-tempat yang mereka mau.

Aku gagal dalam memenuhi semua target yang telah kutetapkan.

Dan pastinya, aku juga sering gagal dalam mengambil hati si dia 😦

Intinya, ada banyak kegagalan yang kutemui dan akan menghabiskan waktu semalam jika kusebutkan semua di sini. Kegagalan memang sudah seperti kembarannya kesempatan. Disetiap langkah, di setiap harapan, kegagalan sering menampilkan wujudnya. Tak peduli, bahwa perasaan sedang penuh dengan harapan dan hati penuh dengan keyakinan.

Gagal memang seperti garam dalam sup. Tak menyenangkan kalau dia tak ada. Niscaya jika ada orang di dunia ini yang tak pernah gagal, maka dia sudah patut dicurigai. Sekarang pertanyaannya, ketika gagal, apa yang harus dilakukan? Menyalahkan diri sendiri, menangis sepanjang hari, memukul kaca kamar mandi, makan tanpa henti, memarahi setiap orang, mengurung diri di kamar, atau bunuh diri?

Semua hal itu sama sekali tidak perlu. Selain menguras tenaga, kadang menguras biaya, juga menguras hati. Maka, langkah efektif yang ampuh untuk menghadapi kegagalan adalah :

1. Lupakan masalah.

Ketika aku baru saja gagal akan sesuatu dan merasa sangat stress dalam memikirkannya. Aku akan keluar sejenak, mencari tempat kosong atau tempat yang nyaman untuk berteriak, menghirup udara segar dan setelah itu kembali ke tempat-tempat ramai, seperti cafe, toko buku, supermarket, dan bioskop. Aku akan menikmati waktu untuk melakukan semua itu dan tidak memikirkan tentang kegagalanku. Jika, sesekali bayangan kegagalan tadi melintas, aku akan berbicara tanpa henti, atau melihat video lucu sehingga aku sedikit lupa dan dapat menikmati hari.

2. Pikirkan kembali masalah itu.
Setelah selesai menenangkan hati. Bisa dua sampai tiga hari. Aku akan mengambil waktu sebentar untuk mulai berpikir tentang masalahku, bagian mana yang menyebabkan aku gagal dan apa yang sebenarnya terjadi, atau apakah aku memang pantas gagal? Apa kekurangan yang telah aku lakukan dan apa kelebihanku?
Aku akan menuliskannya di worksheet seperti ini,

Setelah aku berhasil mengetahui sebenarnya, apa yang membuatku gagal dan semua pertanyaan tadi. Aku akan menatap worksheet itu sebentar dan mulai berpikir.

3. Buat keputusan baru.
Yang aku pikirkan adalah, tentu saja setiap kegagalan yang aku terima pasti ada satu manfaat yang kuterima di dalamnya, meski kadang-kadang, aku tidak dapat mendapat manfaat itu secara langsung, tapi aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa ‘kegagalan bukanlah akhir segalanya,’ aku selalu meyakinkan diriku dengan itu sehingga pelan-pelan aku akan berhasil memaafkan diriku atas kegagalan yang kuterima.
aku akan menganalisa penyebab kegagalan tadi, mencoba mencari solusi untuknya, atau mencoba mencari sebuah pelajaran darinya. Setelah aku berhasil menemukan itu, aku akan kembali menuliskan di worksheet baru dan menempelnya di buku harian atau di dinding kamar.

Satu catatan yang harus selalu kuingat, setiap diriku gagal adalah,

“Kegagalan adalah guru, dia mengajarkan bahwa aku tidak boleh menyerah untuk berusaha setiap kali bertemu dengannya karena jika ingin benar-benar hidup, aku harus lebih baik lagi ke depan.”

Sebuah cerita tentang, Quora.

Hai Kawan~!

Hari ini, aku mau memberi sedikit saran buat kalian yang suka baca, suka cari pengetahuan baru dan suka banget sama sesuatu yang kece-kece.

Kalian pernah dengar tentang quora?

Kalau kalian pernah mendengarnya, tentu tidak sulit bagi kalian untuk mengetahui tentang quora. Aku mengetahui tentang quora pada tahun 2018 ini. Awal-awalnya, aku juga merasa tidak suka, bosan, dan jarang membukanya, entah karena alasan apa. Namun, setelah kulihat-lihat lagi, akhirnya aku menyadari bahwa quora itu keren bangettt. Ini sama sekali bukan promosi atas dasar mau ningkatin pengunjung qoura (tanpa aku menulis ini pun, pengunjung qoura sudah sangat banyak) tetapi ini murni karena aku mau promosi supaya kalian semakin mempunyai banyak tempat untuk mencari pengetahuan dan berbagi pengalaman.

Jujur saja, setelah aku sering-sering membaca quora, aku semakin merasa senang dan sedikit kecanduan. Intinya, aku suka berlama-lama di sana, mencari berbagai topik, dan mengetahui banyak hal yang kadang membuatku tercengang-cengang karena tidak pernah dengar sebelumnya.

Baca juga : Let’s Create Your Own Opportunity

Ada banyak topik di quora yang sangat banyak jika kusebutkan satu persatu, namun, aku berbaik hati untuk menyebutnya beberapa seperti : sejarah, film, ilmu pengetahuan dan teknologi, fiksi, sastra, pemerintahan, ekonomi, hukum, psikologi, perang, menulis, penerbitan dan masih banyak lagi.

Mungkin, kalian akan berpikir bahwa kalian bisa juga menemui berbagai hal itu di internet tanpa harus ke qoura. Tetapi aku merasa bahwa membuka quora terasa lebih menyenangkan dan meyakinkan. Di sana, aku bisa menemui orang-orang yang benar-benar ahli dalam bidangnya. Misalnya, jika aku ingin mengetahui tentang bagaimana menjadi penulis sukses, aku bisa bertanya pada mereka yang sudah menjadi pengusaha dari menulis. Mereka memang orang yang mendalami bidang tersebut, sudah sukses dan merintis karier dengan luar biasa. Contoh : aku ingin tahu tentang luar angkasa, maka aku bisa pergi ke laman miliknya Robert Forst, seorang instruktur dan pengontrol penerbangan di NASA. Aku bisa bertanya apapun padanya dan dia bisa menjawab semua pertanyaan itu sesuai dengan keahliannya.

Apakah mungkin bahwa mereka adalah palsu? Kurasa qoura punya tingkat keamanan yang lumayan bagus. Karena di sana, tidak ada gunanya kamu berbohong tentang titelmu karena ketika misalkan aku mengatakan bahwa aku bisa menulis, maka orang-orang akan bertanya padaku tentang menulis. Tentunya, jika memang aku bodoh dalam menulis, niscaya aku hanya membuat diriku malu sendiri untuk mengatakan aku mampu menulis. Apalagi jika banyak dari mereka adalah orang-orang besar, maka sama sekali tak ada gunanya untuk berbohong dan mempermalukan nama mereka. Oh, bahkan aku bisa menemui temannya Elon Musk di sana!

Baca juga : A phenomenon

Qoura benar-benar memberiku banyak pengetahuan yang menurutku luar biasa. Aku sangat berterima kasih karena bisa mengenal qoura. Kuharap aku bisa menjadi salah satu pengguna yang dapat berbagi ilmu di sana dan memberi manfaat bagi orang lain yang menggunakannya.

Selamat mencoba~

Love, Naf.

A Phenomenon #1

Tulisan ini hadir bukan maksud penulis ingin menyindir. Tulisan ini juga hadir bukan karena penulis adalah orang yang sangat alim atau semacamnya. Tapi murni hadir karena kegelisahan yang nyata terpampang di depan mata:’-(

Kemarin, aku mengikuti sebuah acara. Acara itu lumayan besar dan diikuti oleh banyak orang. Tentu saja ini menjadi sebuah kebanggaan karena di sana aku bertemu dengan banyak orang baru. mereka adalah anak-anak muda pintar dan juga, hm, ganteng 😆 aku berusaha membaur di sana dan berteman baik dengan mereka. kami bertukar sedikit banyak pengalaman.

Baca juga : Organize Your Mindset

Ketika waktu shalat tiba, aku dan kawan-kawan langsung menuju ke tempat shalat. Namun, ketika aku dan kawan-kawan tiba di sana hanya sedikit yang datang untuk melaksanakan shalat. Sedikit yang mau meluangkan waktu untuk mendatangi tempat Allah.

Mari tidak saling menyalahkan. Mungkin saja, faktor mereka tidak melakukan itu karena memang kurangnya dorongan dari orang tua sehingga mengurangnya dorongan dari diri sendiri. Artinya, waktu mereka masih kecil atau mudah diatur, orang tua jarang mengajak mereka shalat. Atau bisa karena adanya dorongan dari orang tua, bahkan selalu diingatkan lewat handphone tapi pengaruh lingkungan yang membuat mereka mudah meninggalkan shalat. Sekarang banyak lingkungan yang membawa pengaruh buruk bagi penghuni di dalamnya. Lingkungan yang katanya keren dan gaul sering membawa pengaruh begini. Rasanya jago main motor atau jago cari pacar karena wajah yang ganteng sudah cukup.

Baca juga : Let’s create your own opportunity!

Bisa juga pengaruh dari kepintaran. Nah, kenapa kepintaran bisa berpengaruh pada orang-orang yang meninggalkan shalat? Jawabannya sederhana : ketika mereka semakin pintar, semakin banyak tahu, maka ada dari orang-orang itu yang menyepelekan shalat. Pengetahuan yang mereka dapatkan membuat mereka ragu dengan Tuhan mereka sendiri. Bisa karena pikiran mereka terlalu bebas atau semacamnya.
Entah, masalahnya ketika ada rasa ingin mengingatkan mungkin karena salah satu dari orang-orang itu adalah teman. Jawaban mereka malah membuat hati semakin miris.

“Udahlah, ibadah ya, ibadah aja. Gak usah ajak-ajak. Gak usah sok alim.”

Atau,

“Udahlah, kami bentar lagi sholat kok.”

Keinginan hati ketika mengajak mereka bukan karena sok alim atau semacamnya. Tapi selagi masih bisa mengajak untuk sama-sama beribadah. Kenapa tidak? ‘kan belum tentu juga si pengajak akan selalu menjadi begitu. Selagi bisa, ya, lakukan saja. Atau ketika mereka mengatakan sebentar lagi, itu nantinya pasti akan terlupakan hingga tak jadi.

Tak apalah, mungkin memang berat untu shalat. Tapi aku setiap kali merasa malas atau semacamnya, berusaha mengingat “shalat malas, minta ini-itu sama Tuhan gak pernah malas. Gak malu, ya? harusnya kalau gak mau shalat, gak usah minta apa-apa. Cukup dengan begitu aja, usahakan sendiri.”

Analogi simpelnya, sih, ketika seseorang meminta sesuatu pada teman atau pejabat, kalau seandainya kita tidak melakukan apapun, apakah itu dalam bentuk berbakti kepadanya atau membantu dia atau melakukan suatu usaha yang membuat dia bangga, apakah dia akan menerima permintaan orang itu jika orang tersebut tidak dikenalnya tapi datang hanya untuk meminta bantuan? Bisa saja, tapi kemungkinannya kecil dan bisa hanya terjadi sekali.

*Tulisan dalam luang.

Love, Naf~

Let’s Create Your Own Opportunity! #dreamlife5

No opportunity, worth seizing, is going to come, knocking on your door, opportunity are like hidden treasure, they are everywhere, but you have to find it -Micheal.

Hai teman-teman!

Kenapa aku ingin bilang tentang, ayo ciptakan kesempatanmu sendiri di dream life yang ke lima? Karena menurutku, banyak banget yang mungkin bertanya-tanya, apa, sih, manfaat dari membuat to-do list, weekly planner dan lain-lain? Apakah itu penting dalam mencapai goals?

Baca juga : let’s plan your goals

Menurutku ini penting, karena ini adalah salah satu cara untuk menciptakan kesempatan. Maksudku, secara tidak langsung ini sudah membuatmu membuka peluang untuk dirimu sendiri.

Simplenya begini, aku ingin menjadi seorang penulis, maka yang harus kulakukan adalah langkah-langkah kecil yang menuntunku untuk menjadi seorang penulis. Aku butuh untuk sering mengirimkan tulisanku ke koran, majalah atau tempat lain. Ini adalah salah satu cara bagiku untuk mengetahui bagaimana perkembanganku dalam menulis. Otomatis ini juga membuka kesempatan bagiku untuk dapat menulis di koran atau majalah tersebut. Secara tidak langsung, aku membuka peluang bagi diriku sendiri dan itu dimulai dari daftar to-do list yang kubuat. Perbandingannya begini, seandainya aku hanya mengatakan, aku ingin jadi penulis tanpa satupun usaha bagaimana agar goalsku terwujud. Aku hanya menunggu kesempatan orang lain menawarkan kepadaku untuk menulis di koran atau majalah. Intinya, aku tidak memulainya sendiri, aku tidak menciptakan peluangku tapi aku menunggu di beri peluang oleh orang lain. Hubungannya dengan to-do list adalah, menjadi penulis adalah goals tahunanku. Mengirim tulisan ke koran adalah goals bulananku dan menulis setiap hari untuk dapat mengirim ke koran adalah to-do listku.

Baca juga : Organize your Mindset

Bagiku, menciptakan kesempatan adalah langkah berani yang harus dilakukan dalam mencapai goals. Karena menunggu kesempatan adalah hal yang menyedihkan. Maksudku menunggu orang lain yang menggerakkan diri untuk mencapai goals sendiri adalah hal sedih. Karena berarti diri terlalu pengecut bahkan untuk memulai apa yang sudah diimpikan. Memulai adalah langkah untuk menciptakan kesempatan.

Jaman sekarang, orang-orang menciptakan kesempatan bagi diri mereka sendiri terlebih dahulu, baru setelah itu memberi peluang bagi orang lain. Kenapa ada yang sukses di start-up, atau perusahaan-perusahaan? Karena mereka adalah orang yang membuat kesempatan mereka sendiri dan mengeksekusi kesempatan itu dengan baik.

Ini memang langkah yang sulit, melakukannya tidaklah semudah menulis kalimat di Ms.word, tapi ini bukanlah mustahil yang terlalu sulit dilakukukan. Karena jika memang ada keinginan untuk mencapai goals, maka tidaklah sulit untuk menciptakan kesempatan dengan tangan sendiri.

Lalu, langkah apa yang harus dilakukan untuk menciptakan kesempatan?

1. Berpikirlah positif.

Kenapa harus berpikir positif? Karena dengan pikiran “aku tidak bisa atau aku tidak mampu” takkan membuatmu menghasilkan apa-apa. Karena itu, ketika kamu berpikir positif dan percaya kamu bisa. Maka, kamu bisa.

2. Tuliskan ide-ide yang selalu terlintas di pikiranmu. Jangan simpan untuk nanti, karena bisa saja, idemu yang sekarang, belum tentu idemu yang nanti. Tuliskan dia!

3. Lakukan uji coba.

Percayalah, kamu harus mulai mencoba ketika kamu yakin kesempatanmu di sana. Menunggu siap adalah hal yang tak bisa ditentukan. Kalau kamu memilih siap sekarang, maka kamu siap. Kalau kamu memilih siap nanti, kamu tak akan siap sampai kapan-kapan. Semua tergantung dirimu~

4. Review

Review hasil kerjamu. Apakah kamu sudah menciptakan kesempatan yang tepat? Apakah itu berjalan lancar?

Pertanyakan semua dan perbaiki kesalahan.

5. Beradaptasilah dengan resiko

Ini adalah terpenting dalam penciptaan kesempatan. Karena belum tentu kesempatan yang kamu ciptakan berjalan mulus. Maka, siapkan mental, terus mencoba dan beradaptasilah dengan resiko.

6. Bersabarlah.

Ini juga hal yang bisa terus menjaga semangatmu. Ketika sabarmu hilang, maka semangatmu menguap. Maka, jika tak berhasil, bersabarlah!

Itu adalah hal-hal yang aku lakukan setiap ingin mencoba sesuatu yang baru. Meski sering gagal, aku tak ingin menyerah untuk menciptakan kesempatan bagi diriku sendiri.

Brave .

Nafs~